Betapa jauh kesetiaan. Betapa waktu kian larut menjadi malam. Dan hasratku-entah mengapa selalu ingin memandangMu. Aku butuh Kau menghembus. memberiku surat baru, lagu-lagu cinta yang baru. Juga hal yang tetap ingin Kau mekarkan dalam genggamanMu. Aku butuh Kau di dekatku. Berisyarat sambil bertahan selama mungkin. Aku akan berkata sayang padaMu lebih seribu kali. Dan jika kita telah sama, menaruh luka sebagai kata-kata, maka hari itu terbitlah hidupku.
Thursday, 29 December 2011
Chapter 21
Ingatanku, doa kepadaMu. Kupanjatkan siang dan malam. Agar kau selalu baik, menerima keadaanku, disisiMu.
Bangkalan, 13 Januari 2011
Bangkalan, 13 Januari 2011
Labels:
Chapter
Chapter 13
Sayangku, dari apa kau membuat air mataku?
sehingga aku merasa amat sanggup
memandang seluruh isi hatimu.
Tanpa sadar,
bahwa sebenarnya itu adalah
hanya angan-angan.
Labels:
Chapter
Chapter 8
Jalan, rumput, dan ruang yang kita ciptakan di samping pohon asam itu adalah tujuan dimana kita bermimpi. Mimpi kita sempit, begitulah katamu. Menandai pantai yang bening dan jauh. Kupu-kupu menarik diri ke utara, mirip kesetiaan ikan. Sebelum siang kita datang. Menerima salam yang gugur. Menjadi hujan nanti. Menjadi hari yang dilahirkan. Kemudian kita berhenti, di tengah sepi. Di tengah mimpi.
Arosbaya, 26 Desember 2010
Arosbaya, 26 Desember 2010
Labels:
Chapter
CHAPTER 12
Untuk kesekian kali kupanggil dirimu.
Sesekali kubuat alasan baru
agar kau terus bertahan
dan mampu kudengarkan.
Luka lebih setia dari segumpal dada,sayangku...
Dari perjumpaan paling merona perkenalan kita,
hatimu yang putih.
Juga warna waktu yang selalu
membuat kita ingin berdampingan....
adalah mabuk, adalah khayal
adalah pembicaraan kita di bawah purnama.
Aku ingin menjadi laki-laki yang memberimu sehelai rumput.
Dengan cara yang tak ada selain sempurna.
Seperti mata surga.
Labels:
Chapter
Wednesday, 28 December 2011
Chapter 40
Meninggalkanmu;
pesan yg tak pernah bisa
kuwujudkan bentuknya.
Bangkalan, 18 November 2011
pesan yg tak pernah bisa
kuwujudkan bentuknya.
Bangkalan, 18 November 2011
Labels:
Chapter
Chapter 38
Pagi menulis dirinya sendiri.
Pagi tumbuh dengan pengecualian
bahwa semalam ia telah bermimpi tentang keutuhan,
sepotong cinta,
jg dadanya yang memar lantaran
hujan tak pernah tiba.
Ia terus menuliskan sesuatu.
Seperti pikiran,
seperti wajah2 yang baru ia kenali.
Dan di atas matanya,
ia buat pelukan dari air dan pasir.
Bangkalan, 11 Oktober 2011
Pagi tumbuh dengan pengecualian
bahwa semalam ia telah bermimpi tentang keutuhan,
sepotong cinta,
jg dadanya yang memar lantaran
hujan tak pernah tiba.
Ia terus menuliskan sesuatu.
Seperti pikiran,
seperti wajah2 yang baru ia kenali.
Dan di atas matanya,
ia buat pelukan dari air dan pasir.
Bangkalan, 11 Oktober 2011
Labels:
Chapter
Subscribe to:
Posts (Atom)